Bade Kamana di Bandung?

•December 27, 2009 • Leave a Comment

Penunjuk jalan / papan hijau yang bisa menyala dalam gelap, jadi penyelamat kala tersesat /

Musim liburan akan segera tiba, dan Bandung segera saja menjadi salah satu tujuan wisata. Macet? Tentu saja. Apalagi di akhir pekan. Derasnya kaum pendatang yang ingin menikmati surga belanja dan makanan di kota ini tampaknya terlalu sulit untuk dibendung. Tapi itulah Bandung. Kota dengan sejuta daya tarik ini selalu tak henti  memberi sajian yang unik dan menarik. Kuliner, fashion, pemandangan alam, menjadi madu yang diburu para pelancong. Apalagi kini para pemilik usaha semakin kreatif mengemas barang dagangannya hingga tak mungkin meninggalkan Bandung tanpa membawa buah tangan sedikit pun. Bahkan wisatawan dari negeri jiran dan negeri singa pun rela berdesak-desakan di Pasar Baru atau menyusuri Cihampelas hanya untuk sekedar mendapatkan apa yang mereka sebut dengan ‘barang bagus dengan harga miring’. Terlebih lagi fenomena Factory Outlet dan Distro yang terlanjur meng-Indonesia. Lantas Bandung pun mentasbihkan dirinya sebagai trendsetter fashion Nusantara.

Bagi para pecinta kuliner, Bandung seolah tak mau kalah peran. Disajikannya cafe, resto, hingga warung kaki lima yang bertebaran di seluruh penjuru kota. Belum lagi makanan khas legendarisnya seperti Kupat Tahu Gempol, Lontong Kari Kebon Karet, Bubur Mang Oyo, Batagor Riri, Baso Tahu Mang Ade, Nasi Bakar Cimandiri, Es Campur Pa’Oyen, Colenak Murdi Putra, Lotek Kalipah Apo, Surabi EnHai dan seabreg makanan lainnya yang tersebar dimana-mana, selalu menggoda lidah kita untuk mampir dan kemudian mencicipinya. Ada lagi oleh-oleh ala Molen Kartika Sari, Brownies Amanda, Boelu Koedja, yang setia mengisi bagasi mobil hingga penuh sesak. Itu tidak termasuk dengan  barang belanjaan yang sedari tadi sudah menguras dompet sampai nyaris tak bersisa. Tapi asalkan semuanya bahagia, kenapa juga harus tak rela. Jauh-jauh datang ke Bandung, memang itu yang dicari. Setumpuk pakaian trendy dan cemilan bercita rasa tinggi.

Namun dari sekian banyak tujuan di Bandung, tak jarang banyak waktu yang terlalu lama dihabiskan di jalan. Macet pasti. Banjir iya. Tapi alasan itu terlalu biasa. Ada hal lain yang  membuat para pelancong itu frustasi ketika keliling-keliling Bandung. Sesuatu yang seharusnya jadi guide, tetapi lebih sering jadi aksesoris di pinggir jalan. Sesuatu yang berwarna hijau dengan bingkai putih yang kadang-kadang bersembunyi di balik dedaunan. Yup, kamu benar. Petunjuk Jalan. Kalau diperhatikan signage di Bandung memang aneh dan berbeda dari kota-kota lainnya. Coba saja kamu teliti. Di daerah lain, lokasi-lokasi yang tertera di penunjuk jalan adalah nama tempat yang sudah sangat dikenal (landmark) seperti  alun-alun, bandara, kampus, stasiun, dan sebagainya, atau tempat yang sering dituju para turis seperti kawasan wisata, gedung kesenian, museum, dan sebagainya. Tetapi  cuma di Bandung kamu bisa tahu dimana letak ATM bank tertentu, studio foto, hotel tempat kamu akan menginap, cafe dan FO langganan, sampai penanda tempat kursus bertuliskan “Hati-Hati Anda memasukui Kawasan Dunia Maya..”

Boleh jadi inilah inovasi berlebihan dari Dinas Perhubungan Kota Bandung. Kreatif? Mungkin. Informatif? Belum tentu. Percayalah informasi yang terpajang di papan signage itu lebih sering membuat orang bingung dan kadang bertanya-tanya, “Kenapa tiba-tiba ada nama hotel anu dan cafe inu disana?” Padahal di atas, kanan, dan kirinya jelas-jelas tertulis nama jalan yang biasa dituju untuk memandu para pendatang.  Sebagian penunjuk jalan juga ditempatkan di lokasi yang kurang pas sehingga baru kelihatan kalau sudah dekat. Malah ada signage yang gambarnya tampak seperti sebuah persimpangan, padahal sebenarnya posisi jalan miring (tidak tegak) dan ada sebuah taman segitiga yang pasti bikin orang loading alias mikir dulu waktu membacanya. Jangankan pendatang, orang Bandung sendiri sulit menginterpertasikannya kalau belum hafal jalan di sana, apalagi kalau sambil nyetir sendiri. Belum lagi sejumlah papan penunjuk tempat yang menyerupai rambu penunjuk jalan dengan latar hijau yang menyala dalam gelap, masih bertebaran di sejumlah jalan dengan ukuran yang tidak proporsional, serta jenis font yang tidak seragam. Semua hal tersebut sukses bikin pusing para pendatang dan menambah deretan keprihatinan lalu lintas di Bandung. Kadang-kadang saya malah suka berkhayal, kalau saya punya uang, rasanya saya akan buat papan penunjuk jalan yang memuat tulisan “Rumah Dimas” lengkap dengan arah panah ke kanan, di bawah tulisan Pusdai (Pusat Da’wah Islam) dan Gedung Sate sebagai landmark di wilayah tersebut. Dijamin nggak ada lagi  yang bakal nyasar kalau mau ke rumah saya..hehe.. Kalau dipikir-pikir, lagi-lagi uang memang selalu punya kuasa, dan kali ini sponsor-lah yang boleh berbicara. Toh semua ini dengan dalih dalam rangka membantu pemerrintah bukan?!

Idealnya dengan panjang jalan sekitar 932 km, Bandung memang seharusnya memiliki 360 rambu penunjuk jalan yang tersebar di setiap persimpangan. Namun saat ini, rambu penunjuk jalan yang tersedia ‘hanya’ berjumlah 60 saja. Itu artinya Bandung masih kekurangan 300 rambu penunjuk jalan lagi. Dan jika diasumsikan setiap rambu penunjuk jalan membutuhkan dana 11 juta rupiah, seperti yang disebutkan Dinas Perhubungan Kota Bandung, maka dibutuhkan dana sekitar 3,3 miliar untuk pembuatannya. Hmm..sebenarnya itu jumlah yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bandung yang mencapai 250 miliar. Tapi kalau sudah berbicara layanan publik, sampai saat ini agaknya pemerintah memang kurang bisa diandalkan. Selalu saja ada alasannya, dari yang klise seperti tidak ada anggaran atau dananya terbatas, sampai yang paling mutakhir seperti akan diusulkan di periode anggaran berikutnya atau alokasi dananya dialihkan untuk pendidikan dan kesehatan. Padahal kalau pemerintah punya will atau kemauan yang tinggi untuk benar-benar serius menanganinya, jumlah segitu pasti bisa dipenuhi. Ah.. andai saja setiap penduduk Bandung yang berjumlah 3 juta jiwa bisa menyumbang 10 ribu untuk penggalangan dana pembuatan rambu penunjuk jalan layaknya ’koin untuk prita’, barulah pemerintah kalang kabut dan sibuk mencari topeng untuk menutupi wajah aslinya.

Terasa menggelikan memang. Papan yang tadinya berfungsi sebagai petunjuk jalan, seringkali malah tidak komunikatif sehingga gagal memandu. Padahal sejatinya signage memegang peranan yang sangat penting dalam menunjukkan arah lokasi tempat di suatu kota. Kontribusi terjadinya kemacetan mungkin saja disebabkan oleh para pendatang yang tersesat atau berjalan lambat karena mencari petunjuk arah jalan atau setengah mati menginterpretasikan petunjuk jalan yang tersedia.  Tapi itulah kenyataannya. Kalau kamu tidak hafal jalan di Bandung atau tidak punya kenalan orang Bandung atau baru pertama kali di Bandung, maka bersiaplah untuk pusing-pusing Bandung. Apalagi jalan searah di Bandung punya karakteristik seperti ular yang jalurnya berkelok-kelok, sebentar belok kiri, sebentar belok kanan. Memang disini tidak ada aturan three in one, jadi tak perlu repot cari joki. Hanya saja, jalanan di Bandung yang mirip sirip ikan dengan banyak percabangan dimana-mana kadang sering memabukkan. Buat yang tahu jalan tikus, itu bisa jadi jalan keluar di tengah kemacetan. Tapi buat yang tahunya jalan di Bandung hanya Dago, Riau, Braga, dan Setiabudi saja, disarankan untuk bawa peta kemana-mana. Percayalah itu sangat amat membantu dibandingkan sekedar mengandalkan papan penunjuk jalan. Dan jangan lupa satu hal lagi, beranilah bertanya kalau memang tidak tahu , karena seperti kata pepatah “malu bertanya sesat di jalan”. Lagipula nggak ada salahnya toh bertanya lebih dulu, daripada kamu ditilang karena terlanjur melanggar rambu lalu lintas atau malah salah arah. Nah, sekarang kamu sudah lebih tahu kan bagaimana tips jalan-jalan di Bandung. Jadi bade kamana di Bandung?

Unpredictable

•December 14, 2009 • 4 Comments

Kebetulan / pas mau pas ada, pas butuh pas dapet, pas gagal pas batal, pas lupa pas nggak diperiksa, pokonya pas deh /

Rendra! Kami dari  Magenta Event Organizer, memilih Rendra buat jadi salah satu koordinator pelatihan Hari Senin dan Selasa besok.  Harap datang pada briefing jam 16.30 WIB di kantor Jl. Cempaka No.5 Bandung. Mohon kehadirannya, terima kasih..!!”

Deg..harusnya pesan singkat itu bisa jadi kabar gembira buat Rendra. Sudah lama ia bercita-cita untuk bekerja di suatu event organizer..kebetulan..beberapa hari yang lalu dia membaca sebuah lowongan pekerjaan di e-mail yang ia dapat dari sebuah milis.. kebetulan juga, jadwalnya memang sedang tidak padat, dan saat itu ia berniat untuk mencari pekerjaan paruh waktu atau sambilan.. Wah kebetulan sekali dong.. pucuk dicinta ulam tiba..tapi kelihatannya Rendra malah tak bahagia..kenapa ya..?!

Lima hari sebelumnya, Rendra memang sedang ingin cari hiburan.. kebetulan saat ia sedang jalan-jalan..tiba-tiba terlintas keinginan untuk menonton film sendirian..agak aneh memang, bukan nonton sama teman-teman..ia malah memilih kesepian..tapi ya, mungkin ia butuh suasana yang berbeda..kebetulan filmnya akan segera dimulai.. ia pun bergegas membeli tiket lalu masuk ke ruangan..tak lama seluruh lampu dimatikan..dan film pun dimulai..hingga tak terasa, dua jam lamanya ia nikmati disana..

Esoknya Rendra baru sadar..ternyata handphone-nya tertinggal di teater..segera saja dia menelpon untuk memastikan barang tersebut masih selamat..untunglah nasib baik masih berpihak padanya..seseorang telah menemukannya kemudian menitipkannya di satpam..tanpa berlama-lama, Rendra pun memutuskan untuk mengambilnya.. kebetulan ia berencana membeli  barang-barang keperluan di supermaket yang berdekatan dengan bioskop.. tapi dasar kebetulan, eh sekarang dompetnya yang ketinggalan.. akhirnya niat untuk berbelanja urung dilaksanakannya..ia pun kembali pulang dengan wajah suram..tapi toh masih ada hari esok..

Pagi-pagi sekali, telepon berdering..Rendra diminta tolong untuk mengantarkan sepupunya pindahan ke luar kota..kebetulan hari ini ia sedang tidak ada kesibukan..tanpa pikir panjang, ia pun menyanggupinya..tapi di jalan tiba-tiba perasaannya menjadi gelisah.. ia baru ingat akan handphone-nya..dan berharap-harap cemas menanti sebuah berita..lalu benar saja, sesampainya di rumah ada sebuah pesan dari ibunya.. bahwa sedari tadi ada orang dari pihak dari event organizer beberapa kali menghubunginya..namun karena kebetulan Rendra belum datang..semuanya jadi dibatalkan..fiuuhh, ternyata intuisinya memang benar..ada sesuatu yang membuat dia ingin segera pulang..tapi apa boleh buat..waktu tak bisa diputar kembali..

Keesokan harinya, tak ada rencana lain di benak Rendra selain mengambil handphone..hingga tak berapa lama, benda itu pun sudah ada di genggamannya..kebetulan pihak keamanan yang waktu itu menemukan handphone-nya sedang bertugas..jadi proses pengambilannya bisa lancar..kondisi barang pun masih utuh tanpa cela..tapi kini ia malah terkejut bukan main..karena ternyata ada pesan singkat yang menyatakan bahwa pihak event organizer memutuskan menerimanya kembali..namun ketika ia mengkonfirmasi, rupanya sudah terlambat..seharusnya itu dilakukan kemarin malam..kebetulan ia baru membacanya hari ini..seketika hatinya berkecamuk..ada rasa sesal bercampur marah..kenapa juga semuanya serba kebetulan hingga jadi seperti ini..

Dan hari ini, Rendra beraktivitas seperti biasanya..pergi kuliah ke kampus naik motor..kebetulan tempat parkir penuh, jadi dia terpaksa cari tempat lain lewat jalan memutar..eh tiba-tiba saja..BRAKKKK!! motornya tergelincir dan tubuhnya terseret.. gara-gara menghindari orang yang menyebrang, ia memilih untuk banting setir..tak ayal lagi, tubuhnya penuh luka dan tangannya patah..kebetulan helm yang ia gunakan tidak terlepas..jadi kepalanya selamat..tak lama ia pun segera mendapat penanganan pertama untuk kecelakaan dan semua lukanya diobati..hingga pada malam harinya..dalam kondisi membujur kaku..Rendra pun termenung..andai ia saat itu menerima tawaran event organizer..apa jadinya kini..pastilah semua berantakan..karena ia tak bisa penuhi pekerjaan..

Entah kenapa Rendra pun teringat semua peristiwa kebetulan yang akhir-akhir ini menyapanya..lantas ia berpikir..apakah makna dari kebetulan? Apakah ia datang untuk kebaikan? Atau malah untuk keburukan? Lalu apakah arti dari tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini? Apakah itu semua rencana Tuhan yang tidak bisa kita terjemahkan? Atau memang sesuatu kejutan dalam hidup yang tak pernah kita ketahui? Jangan-jangan sesuatu yang kita pikir kebetulan..boleh jadi sebenarnya bukan kebetulan..hmm, tampaknya masing-masing dari kita punya jawabannya sendiri.. kalau begitu bagaimana menurutmu, “kamu percaya kebetulan nggak sih?? kalau iya kenapa,kalau nggak juga kenapa??”

Happy Ied Mubarak

•September 25, 2009 • Leave a Comment

Lebaran / hari raya yang dinantikan, kemenangan bagi semua orang /

MET

Lebaran itu identik dengan ketupat, opor ayam, dan kue kering..lebaran juga saatnya suara bedug bergema dan takbir berkumandang..tapi yang pasti lebaran adalah saat kita pulang..pulang kembali ke hati yang fitri..pulang ke rumah dan kampung halaman..pulang ke keluarga..

Saat lebaran memang sangat dinanti..lebih dari sekedar hari kemenangan..lebaran adalah hari kebahagiaan..hari kumpul-kumpul..hari bertemu semua sanak saudara..hari silaturahim ke tetangga..hari ziarah ke makam..semuanya lagi-lagi..pulang ke keluarga..

Betapa tidak..jutaan orang rela berdesakan di terminal..bersesakan di stasiun..berjubelan di pelabuhan..bermacet-macetan di jalanan..berdiri, menunggu, merayap..tak peduli tiba kapan..yang penting perjalanan sudah dimulai..semuanya demi..pulang ke keluarga..

Toko-toko tutup..warung-warung ikut..pedagang kaki lima seolah menghilang..kalut entah kemana..jalanan pun lengang..tak ada bising klakson mobil..tak ada suara motor menderu.. semuanya nikmat bercengkrama, bercanda, dan tertawa..semuanya asyik..pulang ke keluarga..

Aku juga ingin berlebaran..ingin terlahir kembali dalam keadaan yang suci..aku juga ingin makan ketupat dan opor ayam buatan ibu..aku ingin bertakbir bersama ayah..ingin kumpul dengan saudara..bertemu dengan tetangga..aku ingin pulang..pulang ke keluarga..

Taqoballahuminna waminkum..Shiyamana washiyamakum..Happy Ied Mubarak”


It’s A Mask ?!

•September 1, 2009 • 1 Comment

Topeng / sekedar pengalih perhatian bahwa apa yang kau lihat belum tentu sejati /

128576390_8f4a9e9fee_m

Banyak orang yang tidak tahu..banyak orang tak melihat..

Bagaimana perasaanku, pikiranku, dan kebutuhanku..

Mungkin mereka tak melihat..atau aku tak menunjukkan..

Tapi tak seorang pun tahu..apa yang di dalam hati tersimpan..

Kuingin perlihatkan pada dunia..kuingin semua orang melihat..

Segala pikiran dan gagasan..yang didalamku terpahat..

Mungkin kau tidak perhatikan..atau mungkin kau tidak berani..

Mencari tahu tentang diriku..’tuk menunjukkan kau peduli..

Aku menjerit di dalam hati..tapi hanya senyuman yang bisa kau lihat..

Namun akau tak puas..dengan apa yang dari luar terlihat..

Ada pribadi lain di dalam sini..yang tak bisa kuperlihatkan..

Kalau kau sisihkan waktu..mungkin kau bisa berkenalan..

Jelajah Hutan Tangkuban Perahu

•August 4, 2009 • 1 Comment

Tangkuban Perahu / gunung yang mahsyur dengan cerita Sangkuriang dan perahu terbaliknya, hingga membuatku jungkir balik saat mendakinya /

3684182108_65620d725f_m

Pagi itu udara di sekitar Terminal Ledeng terasa cukup dingin. Sinar matahari belum menyengat. Hanya lalu lalang angkot yang sedikit menambah hawa panas. Aku, bersama dua orang sahabatku, Adis dan Kime, masih menikmati pisang goreng yang diberikan oleh Ulu. Asapnya saja masih mengepul, pasti terbayang kan lezatnya. Sambil sesekali bercanda, kami berempat menunggu datangnya angkot krem dengan label Stasiun-Lembang yang siap mengantarkan kami untuk berpetualang.

Ya, hari itu kami berencana untuk mengunjungi salah satu objek wisata paling terkenal di Jawa Barat, Gunung Tangkuban Perahu. Agar lebih menarik, kami sengaja memilih rute yang tidak biasa. Hanya satu modal kami saat itu, NEKAT!! Tanpa pernah tahu medan seperti apa yang akan kami temui. Bahkan untuk Kime, ini adalah perjalanan pertamanya ke Gunung Tangkuban Perahu. Pantas saja dia menggunakan sepatu teplek dengan tas jinjing di tangannya. Ulu malah sempat nyeletuk, “kayak mau ke mall, Ki..”, yang diiringi gelak tawa dari kami semua.

Aku sendiri belum pernah melewati rute ini. Satu-satunya informasi yang aku tahu, rute ini mengacu pada sebuah jalur yang dipaparkan Pak Budi Brahmantyo dan Pak T. Bachtiar dalam bukunya yang berjudul Geowisata. Dalam buku itu, dijelaskan bahwa untuk mencapai Gunung Tangkuban Perahu kita bisa menjelajahi Hutan Jayagiri hingga tiba di puncak Gunung Tangkuban Perahu. Selanjutnya perjalanan diteruskan dengan menuruni lereng hingga ke Kawah Domas, menembus semak belukar, menapaki hamparan perkebunan teh, sampai akhirnya tiba di Ciater. Wow tampaknya seru, dan percayalah, apa yang kami temui ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang kami bayangkan sebelumnya.

***

Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 pagi. Tak lama berselang angkot yang kami tunggu menjelang. Segeralah kami menaiki angkot itu. Jangan bayangkan suasana yang penuh sesak. Entah kebetulan atau tidak, angkot yang kami naiki cukup lowong. Isinya hanya kami berempat dan tiga orang penumpang lainnya. Suasana yang nyaman tadi membuat kami asyik bercengkrama selama perjalanan. Jadilah waktu 45 menit seperti tak terasa. Tiba-tiba saja kami sudah berada di Lembang, dan berhenti tepat di sebuah pertigaan dengan sebuah plang bertuliskan “Makam Junghun”.

Di hadapan kami, terbentang jalan lurus sepanjang 2 km dengan sedikit mendaki menuju pintu masuk Hutan Jayagiri. Tetapi sebelum kesana, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Makam Junghun seperti yang kami lihat di plang tadi. Lalu siapakah Junghun? Beliau adalah seorang ahli kina yang sangat terkenal pada saat bumi parahyangan ini masih berupa hamparan perkebunan. Percaya atau tidak, dulu negeri tempat kita berpijak ini adalah pengekspor kina terbaik di seluruh dunia. Ironisnya, ketika melihat Makam Junghuhn, tidak terlihat tanda-tanda kemasyhurannya. Area pemakaman itu tampak tidak terawat. Padahal, jasa yang diberikan Junghuhn tak ubahnya seperti Bosscha dengan sumbangsihnya pada perkebunan teh di Indonesia. Jadi, bagi yang sudah pernah mengunjungi Makam Bosscha di Perkebunan Teh Malabar, Pangalengan, pasti akan merasa miris dan sedikit mengelus dada melihat pemandangan di depan mata.

Area pemakaman itu dipagari dengan sebuah gerbang yang terkunci. Untung saja ada celah tembok dan sebilah kayu yang seolah menjadi tangga untuk kami memasuki makam tersebut. Di sekeliling makam, tampak deretan pohon kina. Menurut pengurus makam ini, kina yang ditanam di Lembang adalah kina hasil hibrida antara bibit kina dari luar negeri dengan bibit lokal. Hal ini terkait perbedaan karakteristik dari kedua jenis kina tersebut, yakni kina dari luar negeri memiliki batang yang tinggi tetapi getahnya sedikit, sebaliknya kina lokal memiliki batang yang rendah tetapi getahnya banyak. Alhasil hibrida yang dihasilkan dari kedua jenis ini memiliki batang yang tinggi dan getah yang banyak. Itulah kenapa kina tersebut memiliki kualitas yang sangat baik. Oya soal pemilihan lokasi di Lembang, konon menurut Junghuhn tanah di Lembang adalah tanah yang paling cocok untuk perkebunan kina. Satu hal lagi yang menarik, dari sana kita bisa melihat pemandangan Obsevatorium Boscha yang berdiri anggun di atas bukit. Cantik sekali. Hmm, itu salah satu scene terbaik yang saya lihat dalam perjalanan ini.

Cahaya matahari sudah mulai terik. Tapi perjalanan kami yang sebenarnya baru saja dimulai. Dengan langkah mantap kami memasuki gerbang Hutan Jayagiri sambil memandangi indahnya patahan Lembang yang membentuk gawir-gawir alam. Jalur ini dibuka dengan trek yang cukup menanjak. Apalagi saat itu masih musim hujan, jadilah tanah setapak itu menjadi licin dan berair. Kime, tentu saja yang paling kerepotan. Dengan nafas tersengal dia terus berusaha mendaki, sementara kami bertiga malah asyik berfoto-foto. Hutan Jayagiri memang indah, khas dengan deretan pinus yang membuat kami seolah tenggelam dalam rerimbunan pohon. Tapi hutan ini tidak lebat, sinar matahari bisa dengan bebas menelesup celah-celah ranting dan dedaunan. Sungguh pemandangan yang menarik, dibarengi dengan udara yang sejuk dan kicau burung yang sesekali menyeruak.

Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri jalan setapak, yang seolah telah terbentuk dari jejak-jejak para petualang yang telah melewati jalur ini sebelumnya. Untuk kami yang baru pertama kali mengunjungi Jayagiri, tentunya ini sangat membantu. Tak terasa 2 jam sudah berlalu, dan kami masih terus mengikuti kelok jalan setapak itu, hingga kami tersadar bahwa kami sepertinya menempuh arah yang salah. Tanpa kompas dan peta, atau petunjuk lainnya, kami memang tak tahu dimana koordinat kami sekarang dan kemana seharusnya kami melangkah. Tadi memang ada persimpangan, satunya jalan menanjak, yang lan jalan menuju sungai. Kami pilih jalan menuju sungai. Tetapi itu malah mengantarkan kami ke sebuah padang yang entahlah apa namanya. Tapi kami sadar itu bukan arah yang dituju. Kami mulai bingung. Akhirnya kami kembali ke persimpangan tadi, dan mencoba arah lainnya. Tetapi sepertinya ini bukan trek jalan setapak. Ini adalah jalur air dari puncak bukit. Sangat terjal dan licin. Beberapa kali kami saling berpegangan agar bisa sampai ke atas, dan setibanya di sana kami masih belum tahu haru kemana.

Lelah, tiba-tiba saja menyeruak di sekujur tubuh kami, hingga kami putuskan beristirahat sejenak. Parah sekali, kami tidak membawa bekal apa-apa kecuali sebotol air minum yang kubawa dan sewadah mi goreng yang Ulu bawa. Tanpa ragu, hidangan itu akhirnya menjadi milik bersama dan habis dalam sekejap. Kami mendapat energi baru, sambil terus berpikir ke mana sebaiknya kami teruskan arah perjalanan. Tiba-tiba terlihat serombongan orang sedang berjalan dari jarak yang tak cukup jauh. Segera saja kami kejar. Kami tanya arah yang benar, dan mereka bilang ini memang jalur meuju Tangkuban Perahu. Mereka bahkan menunjukkan sebuah menara telekomunikasi, yang hanya tampak sebesar telunjuk, dan mengatakan bahwa itulah puncak Tangkuban Perahu. Fiuuhh, kami lega. Setidaknya kami kembali ke jalur yang benar. Perjalanan pun dilanjutkan.

Jalur kami lewati kali ini tampaknya adalah sebuah trek mobil offroad yang penuh dengan genangan air hingga menyerupai sungai kecil. Adis malah sempat bergaya seolah-olah sedang menaiki sampan sambil berdiri di gundukan tanah yang memanjang. Ada-ada saja memang, tapi kami memang benar-benar menikmati setiap kejutan dalam perjalanan ini. Tak lama kemudian, kami pun tiba di suatu areal yang mirip hutan, namun tidak pohon-pohonnya tidak terlalu tinggi. Rupanya lokasi itu adalah jalur trek motorcross yang biasa diliwati para crosser melintasi Hutan Jayagiri. Disana kami juga berpapasan dengan serombongan orang dari sebuah kompleks perumahan di Bandung, yang sedang berwisata ke Gunung Tangkuban Perahu. Menariknya, kostum yang mereka kenakan begitu santai, beda sekali dengan kami yang baru saja nyasar. Kalau wajah kami penuh peluh keringat, kucel, dan kelaparan, mereka tampak segar dan bersih. Bahkan ada seorang wanita yang membawa anjing pudelnya, dengan topi lebar dan kaca muka yang begitu besar. Ckckck..kami seperti bukan sedang di hutan..

Lantas untuk beberapa saat kami berjalan bersama rombongan itu. Namun, sikap mereka yang berisik membuat kami jengah. Tiba-tiba saja kami memutuskan untuk berpisah dan menyelinap masuk ke dalam rimbun hutan, setelah sebelumnya bertemu dengan orang lokal disana yang baru saja pulang dari Tangkuban Perahu melalui jalur hutan. Eh..rombongan itu rupanya malah mengikuti kami. Dasar. Kami jadi terdorong bergerak secepat mungkin agar tak terkejar. Melewati jalur bebatuan, melompati batang pohon melintang, sampai menyeberangi alur sungai kecil, hingga akhirnya menemukan jalan aspal. Ya, akhirnya setelah 4 jam berjalan tanpa tahu arah, kami tiba di tempat parkir Gunung Tangkuban Perahu. Peluh, lelah, dan letih yang tadi menusuk, sekarang jadi tak terasa lagi. Dengan senyum mengembang dan wajah memerah, kami pun tak sabar menaiki kendaraan ontang-anting yang mengantarkan kami ke puncak Gunung Tangkuban Perahu.

Melihat kawah Gunung Tangkuban Perahu memang tak pernah membuatku bosan. Apalagi sangat jarang ada kawah gunung api aktif yang bisa dilihat sedekat ini. Harum belerangnya membawa nuansa eksotis suasana pegunungan. Saat menikmati pemandangan Kawah Ratu, kami serasa melihat mangkuk raksasa yang sangat besar dan dalam. Cuaca juga cukup cerah sehingga lekukan tanah pada dinding kawah terlihat sangat jelas. Benar-benar pemandangan yang mengagumkan. Tapi sayang, begitu menyusuri bibir Kawah Ratu, indahnya panorama ini sedikit terganggu dengan padatnya tenda-tenda para penjual cinderamata. Kawasan wisata ini jadi seperti tak tertata. Dan yang paling menyebalkan, banyak pedagang menawarkan barang dagangannya dengan cara memaksa. Fasilitas umumnya pun minim sekali. Ah, pantas saja beberapa waktu lalu, kawasan wisata ini dicoret dari daftar tujuan wisatawan asing. Sayang sekali bukan..

Gunung Tangkuban Perahu merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif di Pulau Jawa. Konon, gunung ini pernah meletus beberapa kali, mengeluarkan isi perutnya sehingga menghasilkan sembilan kawah yang tersebar di berbagai tempat di sekitar puncak gunung. Salah satunya Kawah Domas, dan itu menjadi tujuan kami berikutnya. Setelah puas menikmati ketan bakar di puncak gunung, tanpa berlama-lama kami pun meneruskan perjalanan menuruni lereng Gunung Tangkuban Perahu dengan trek menurun sepanjang 1,2 km. Sambil melewati undakan tanah menyerupai anak tangga dengan pembatas kayu hutan, kami begitu menikmati indahnya pepohonan di sepanjang jalur ini. Pastinya kesempatan untuk berfoto dan mengabadikan momen-momen seru tak sedikit pun kami lewatkan.

Tak sampai satu jam, aroma belerang dari Kawah Domas telah menyambut kedatangan kami. Tampak bebatuan belerang berserakan dimana-mana. Disana juga terdapat beberapa kolam kecil dari sumber air panas alami, tapi bukan untuk berenang. Airnya panas sekali, bahkan sampai mendidih. Yang menarik, pengunjung bisa merebus telur di kolam itu. Tinggal tunggu beberapa menit saja, telur rebus siap dinikmati. Kita juga tak perlu repot-repot membawa telur, karena disana banyak pedagang yang menjual telur, meski dengan harga yang berlipat-lipat. Di kolam lainnya, dengan air yang tidak terlalu panas, kita bisa merendam kaki sambil berisitirahat sejenak. Kabarnya air belerang memang berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit sekaligus memberi efek terapi pada tubuh. Jadi, setelah pegal berjalan, kaki kami kini serasa dipijat. Rasanya enak sekali.

Setelah puas berelaksasi, perjalanan dilanjutkan menuju ke bawah untuk menyusuri aliran sungai kecil dan mencari jalan setapak ke arah Ciater. Kali ini kami kembali ke hutan. Tapi bukan deretan hutan pinus seperti di Jayagiri. Hutan ini lebih tepat disebut semak belukar. Agak susah memang untuk menemukan jalan ini karena jarang dilalui oleh pendaki. Awalnya kami sempat khawatir akan tersesat lagi. Apalagi sepanjang jalan kami menemui banyak ilalang-ilalang tinggi yang menutupi jalan. Satu-satunya petunjuk kami adalah arah panah yang ditinggalkan oleh pendaki sebelumnya. Kami pun patuh mengikuti rute ini, sambil terus mengikuti jalan setapak hingga tiba petualangan ini mengantarkan kami ke perkebunan teh Ciater.

Sesaat kami tak percaya, kalau kami sudah sampai perkebunan teh. Setelah tadi deratan hutan pinus, aroma belerang, semak belukar, kali ini yang ada di hadapan kami adalah rimbunnya daun teh. Hijau dan sangat menyejukkan mata. Saking senangnya, kami bahkan sempat tidur-tiduran di atas rimbunnya pohon teh. Selanjutnya, inilah saatnya tea walk. Ajaib, itu yang kami rasakan ketika menyusuri celah-celah jalan di kerapatan kebun teh. Tanpa tahu jalur ini menuju ke mana, kami begitu santai menyusuri setiap jengkal alur bukit teh ini, sambil bergerak menuju tujuan akhir kami yaitu: menemukan (lagi) jalan aspal. Setelah lebih dari satu jam melenggang di bukit hijau, kami pun sampai di Jalan Raya Ciater, Subang. Tak terasa ternyata waktu sudah menunjukkan pukul17.00. Jadi, sudah sekitar 10 jam kami berpetualang, dan sekarang saatnya pulang. Tapi naik apa ya? Tidak ada kendaraan umum yang bisa mengangkut kami langsung ke Bandung dari sini. “Gimana klo kita nebeng mobil kol sayur aja?!”, sahut Ulu tiba-tiba. Ide cemerlang. Ah, kenapa tidak terpikirkan ya. Lantas dengan gaya ala backpacker yang kehabisan ongkos, kami pun mejeng di pinggir jalan sambil mengacung-acungkan jempol, pertanda minta tumpangan pada kendaraan yang lewat. Benar saja, tak berapa lama, sebuah kol sayur hitam lantas berhenti. Setalah mengutarakan maksud kami untuk menumpang, pak supir yang baik hati itu mempersilahkan kami untuk naik. Terima kasih pak, dan inilah akhir dari perjalanan kami.

***

Entah sudah berapa kilometer jarak yang kami tempuh hingga sejauh ini. Tapi kami tak peduli. Pulang dengan menaiki mobil kol sayur ala petualangan sherina adalah ending yang sempurna untuk perjalanan ini. Terus terang saja, saking girangnya, kami malah sibuk foto-foto di atas mobil kol sambil bergaya ala tukang sayur, lengkap dengan topi dan keranjang sayur. Kaki kami memang terasa berdenyut, tapi rasa lelah dan letih sirna ketika sepoi angin Lembang mengantarkan kami kembali ke Bandung. Aku pikir, ini adalah salah satu petualangan terbaikku. Semuanya serba spontan dan tidak diduga. Kalau suatu hari kamu ingin mendapatkan pengalaman yang berbeda ketika pergi ke Tangkuban Perahu, rasanya rute ini patut dicoba. Jangan lupa siapkan fisik prima, karena kita akan menjelajahi Hutan Tangkuban Perahu. Selamat mencoba!

Abrakadabra

•January 9, 2009 • 4 Comments

Keajaiban / saat yang tak mungkin jadi mungkin, yang tak ada jadi ada, yang tak bisa jadi bisa, semuanya tergantung kamu /

419717468_bec9aceb2e_m1

Kita sering mengeluh tentang hidup yang semakin rumit..tentang harga-harga yang naiknya selangit..tentang rutinitas yang yang membosankan..tentang masa lalu yang memilukan..dan sejuta ocehan lainnya yang tanpa kita sadari..semakin membuat kita gelisah, gundah, resah..hingga kadang kita berharap ada keajaiban datang dan bisa mengubah semuanya..

Keajaiban memang ada..tapi kadang tak seperti kisah cinderella..yang didatangi ibu peri dan pangeran berkuda.. hingga akhirnya bisa tinggal di istana..bagiku, ia hanya hadir untuk mereka yang benar-benar percaya..untuk mereka yang berani bermimpi..dan memiliki keyakinan bahwa itu semua akan menjadi nyata..meski kadang dengan cara yang berbeda..

Setitik keajaiban sebenarnya telah lahir..saat kau mulai mengubah cara pandang dan persepsimu tentang sesuatu..ia hadir dengan cara yang sederhana meski kadang sulit dicerna..ia datang seperti secercah cahaya di tengah laut dalam..ia menghampiri sesaat hingga bahkan kau pun tak sempat sadar..bahwa ia ada tepat ketika kau mencoba berdamai dengan hidupmu..berkompromi dengan nasibmu..serta menghargai apa yang terjadi sebagai persembahan terbaik dari-Nya..

Lihat saja tukang patri itu..di tengah zaman yang semakin canggih..mengapa kau selalu berpikir kalau ia akan menderita..coba sedikit tengok dan kau lihat pedagang asongan disana..mengapa juga kau berpikir bahwa ia tak berbahagia..atau kau malah mengasihani mbok-mbok jamu yang setiap hari memikul gendongan beras kencur..apa kau pikir hidupnya sepahit jamu yang ia bawa..padahal ia begitu bugar dan masih tersenyum sambil menawarkan aneka rasa..

Mereka boleh jadi bukan orang kaya..atau mungkin mereka memang orang miskin..tapi siapa bilang mereka sengsara..mereka itu justru orang bahagia yang punya sedikit uang..ya, karena yang mereka pahami bahagia bukanlah ratusan juta rupiah di bank..atau rumah mewah yang besarnya sekebun binatang..bahagia itu ketika mereka bisa bersyukur atas apa yang mereka miliki..dan mereka bisa bermanfaat bagi orang lain dengan sedikit keahlian yang mereka miliki..

Itulah persepsi..kau lihat yang ingin kau lihat..kau dengar yang ingin kau dengar..kau rasa apa yang ingin kau rasa..meski itu hanya bersumber dari satu sudut pandang..yang kau yakini sebagai sebuah kebenaran.. andai saja kau sudi lihat sisi lainnya..kau pasti akan temukan hal yang berbeda..bukan..bukan berarti kau salah dengan sebelumnya..hanya saja masih ada kebenaran lainnya..yang bisa jadi tak pernah terpikirkan olehmu..

Kebenaran absolut memang hanya bersumber dari Tuhan..kita, manusia, hanya bisa memberi pandangan sebatas wawasan yang kita punya..mungkin kau masih ingat kisah tiga orang buta yang
mencoba menebak seperti apa bentuk seekor gajah..bagi yang meraba kulitnya, gajah tampak seperti makhluk yang besar dengan kulit kasar dan liat..bagi yang memegang buntutnya, gajah hanyalah hewan yang tinggi dengan ekor berbulu..sementara bagi yang memegang belalai, gajah adalah binatang raksasa yang hidungnya saja sebesar paha manusia..

Hidup bukanlah sebuah kompetisi..melainkan hanya sebuah perjalanan..dimana pengalaman masa lalu adalah kenangan..dan indahnya masa depan masih dalam angan-angan..tetapi hari ini adalah anugerah.. that’s why today we call it present day..karena itu, dalam hidup semua orang berhak jadi pemenang..sesuai caranya masing-masing..tentu saja semuanya berhak untuk berbahagia..dalam persepsi yang ia yakini..

Akhirnya awan mendung di langit-langit sirna..dan berganti menjadi pelangi berwarna warni..karena aku tahu langit tak selamanya gelap..hingga ada kalanya terang..dari sana kulihat secercah harapan mulai berbinar..menyambutku dengan sayapnya yang membentang dan bergumam..” Tuhan tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, tetapi Dia selalu memberi yang kita butuhkan”..sejenak aku pun tersadar..ada cahaya keajaiban mulai bersinar dari genggamanku..

So, without knowing what, who, or anything..just pray and let it through..do ur best n let God take a rest..coz someday we will know..what, who, or anything we actually needed..just believe in..ok !

Miss U Like Crazeh

•January 9, 2009 • 7 Comments

Kangen / suara hati ketika kamu ingin dia hadir dihadapanmu /

2952715100_74db9c8858_m

“Hmm..tumben sampe sekarang blum sms..”
“Hai manis.. dah makan belum…??”
“Duh bulan lagi bulet nih..kayaknya asik nih klo jalan..?!”
“Brr..dingin banget..coba aja ada yang bisa dipeluk..”
“Hei angin tolong bawa gue kesana dong..”
“Disini rame banget..tapi kok kayak ada yang kurang..ga ada yang spesial sih..”
“Wah seru banget filmnya..sayang nontonnya sendirian..”
“Eh lucu banget bajunya..klo kamu yang pake pasti lucu deh..”
“Hiks..is there anyone who can give a shoulder to cry on..??”
“Pengen makan cheese cake..tapi klo sendiri kayaknya ga abis deh..”
“Sial..gw mau makan..bukan mau inget elu..!!”
“Hellow..kok dari tadi ga nelpon-nelpon..lagi sibuk ya..??”
“Plis..gw butuh elu..sekarang..”