It’s A Mask ?!

•September 1, 2009 • 1 Comment

Topeng / sekedar pengalih perhatian bahwa apa yang kau lihat belum tentu sejati /

128576390_8f4a9e9fee_m

Banyak orang yang tidak tahu..banyak orang tak melihat..

Bagaimana perasaanku, pikiranku, dan kebutuhanku..

Mungkin mereka tak melihat..atau aku tak menunjukkan..

Tapi tak seorang pun tahu..apa yang di dalam hati tersimpan..

Kuingin perlihatkan pada dunia..kuingin semua orang melihat..

Segala pikiran dan gagasan..yang didalamku terpahat..

Mungkin kau tidak perhatikan..atau mungkin kau tidak berani..

Mencari tahu tentang diriku..’tuk menunjukkan kau peduli..

Aku menjerit di dalam hati..tapi hanya senyuman yang bisa kau lihat..

Namun akau tak puas..dengan apa yang dari luar terlihat..

Ada pribadi lain di dalam sini..yang tak bisa kuperlihatkan..

Kalau kau sisihkan waktu..mungkin kau bisa berkenalan..

Dilema Angkot

•August 15, 2009 • 3 Comments

Angkot / angkutan yang paling setia melayani penduduk kota, meski kadang dicela, kadang jadi primadona /

angkot-pdgxa

Pernah mampir ke Bandung? Atau pernah tinggal di Bandung? Pasti kenal dengan yang namanya angkot alias angkutan kota. Sesuai dengan namanya, angkot adalah alat transportasi perkotaan yang memiliki rute tetap tanpa memiliki jadwal yang pasti. Umumnya setiap angkot hanya memiliki satu rute yang terkoneksi dengan jaringan transportasi di suatu kota, yang dijelaskan melalui label besar di bagian depan dan belakang angkot mengenai asal-tujuan serta nomor trayek, tanpa ada penjelasan mengenai rute yang dilewati. Dalam sistem transportasi perkotaan, angkot dapat dikelompokkan sebagai angkutan paratransit, yakni angkutan umum yang merupakan penerus (feeder) dari sistem angkutan yang berada pada hierarki di atasnya dan memiliki kompabilitas yang tinggi dalam melayani sudut-sudut perkotaan.

Hingga saat ini, angkot merupakan salah satu alat transportasi publik yang paling terkenal, tidak hanya di Bandung, tetapi juga hampir di seluruh kota di Indonesia. Alasannya sederhana, angkot dapat melayani pergerakan penduduk kota yang seringkali disibukkan dengan berbagai aktivitas, hingga ke berbagai sudut kota. Selain itu, jika dibandingkan dengan angkutan umum lainnya angkot memiliki banyak kelebihan, misalnya saja biaya perjalanan yang relatif murah, (terutama untuk jarak dekat), jangkauan pelayanan dengan aksesibilitas dan mobilitas yang tinggi, serta biaya perawatannya yang tidak mahal. Tak heran jika saat ini, di Bandung terdapat sekitar 5346 angkot yang masih setia beroperasi di 38 trayek demi melayani kebutuhan perjalanan warga kota Bandung untuk berhilir mudik setiap harinya.

Bicara tentang angkot, tak melulu soal kemudahan akses dan transportasi. Lebih dari itu, angkot justru lebih dikenal dan diingat orang karena ketidaknyamanannya. Bahkan sudah menjadi rahasia umum kalau angkot identik dengan kesemrawutan lalu lintas, supir yang ugal-ugalan, udara panas tanpa AC, dan tempat duduk yang berdesakan. Ya, image angkot terlanjur melekat seperti itu. Sebagai angkutan umum yang murah meriah, jangan harap ada pelayanan yang prima ketika menaiki angkot. Pendek kata, bisa sampai di tempat tujuan tepat waktu dalam kondisi selamat sudah lebih dari cukup. Namun pertanyaannya, seberapa parahkah manajemen pelayanan angkot di Bandung?

Semua berawal dari sebuah sistem dimana armada angkot yang ada saat ini umumnya dimiliki oleh perorangan dan dikelola bersama dalam koperasi. Nah, masing-masing koperasi ini memiliki trayek sendiri yang menjadi garapannya. Setiap koperasi juga berinduk pada kobanter, yang nantinya berinduk lagi pada pihak Dinas Perhubungan selaku pemilik kewenangan transportasi Kota Bandung. Dengan demikian pada dasarnya pemerintah kota tidak memiliki kekuatan penuh terhadap pengelolaan angkot dan pada akhirnya kesulitan untuk mengatur ketertiban angkot. Pantas saja kalau akhirnya angkot jadi semena-mena dan seringkali susah diatur.

Di samping itu, dalam pengelolaan angkot juga terdapat sistem setoran, yang mengharuskan supir angkot menyewa angkot kepada pemilik perorangan dengan membayar uang setoran dengan kisaran Rp 100.000- Rp 150.000 per hari. Dengan demikian, perhitungan keuntungan angkot adalah jumlah uang yang didapat supir pada hari itu dikurangi biaya sewa angkot (setoran). Hal inilah yang menyebabkan supir angkot memiliki mindset ngetem, karena mereka tertekan untuk mencapai target pendapatan lebih besar dari ongkos sewa angkot. Bahkan tidak jarang terkadang mereka harus nombok untuk memenuhi kewajiban sewa sedangkan pendapatan yang diperoleh hari itu hanya sedikit. Tak heran jika kondisi ini membuat angkot tidak dapat memberi pelayanan publik sebagaimana mestinya. Ini dapat kita lihat dari kebiasaan buruk angkot yang suka ngetem demi memaksimalkan jumlah penumpang, sehingga sering menyebabkan kemacetan lalu lintas dan pemborosan BBM, serta diperparah lagi dengan etika berkendaraan yang buruk dari para supir angkot.

Meskipun demikian, rasanya angkot masih tetap jadi primadona angkutan umum. Coba saja lihat, jika ada satu trayek angkot sedang mogok, ratusan penumpang terlantar di jalanan rela menunggu kalau-kalau ada satu dua angkot yang nekat beroperasi, sambil menanti datangnya bantuan. Ya, disadari atau tidak, angkot telah menjadi bagian dari keseharian kita. Apalagi pengalaman naik angkot, kadang bisa menjadi sesuatu yang unik dan banyak memberikan inspirasi. Pernah merasakan nikmatnya tidur di angkot karena kelelahan? Atau pernah memperhatikan perilaku para penumpang angkot yang seringkali membuat kita tersenyum simpul? Ada orang pacaran yang tangannya terus nempel kayak perangko, ada yang roknya terlalu seksi sampai membuat kita bingung harus duduk bagaimana, ada tukang gosip yang nggak bisa berhenti ngobrol, ada anak sekolah yang sibuk baca buku dambil komat-kamit menghafal, ada banci kaleng yang doyan ngamen dengan membawakan lagu hits terbaru, ada ibu-ibu yang wangi parfumnya bikin mabok se-angkot, dan masih banyak pemandangan nyeleneh lainnya. Jadi kalau belum pernah, rasanya patut dicoba :D

Aku Cemburu Pada Masakan Ibu

•August 13, 2009 • 3 Comments

Ibu / dia yang kasihnya tak terkira sepanjang masa, bagai sang surya menyinari dunia /

1488906_928388d1ce_m

Dari semua masakan di bumi ini, aku paling suka dengan masakan ibu. Kenapa? Karena ibu memasaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Ibu meracik bumbunya dengan penuh kelembutan, meramu semua bahannya dengan senyuman, hingga membuat siapapun yang menikmatinya ketagihan. Aku pun demikian. Entah kenapa dalam setiap bulir aromanya, begitu harum luapan emosi kebahagiaan. Rasanya pun tak perlu diragukan. Ibu paling tahu yang kita mau, paling mengerti kita suka. Dan yang terpenting, ibu memasak itu semua dengan penuh ketulusan.

Tapi akhir-akhir ini aku cemburu pada masakan ibu. Karena dia menyerap semua kasih sayang tanpa sisa, hingga aku tak bisa lagi merasakannya. Ya, ibu memang masih memasak dengan cinta. Meski bukan untukku. Banyak orang yang kini suka masakannya. Ibu jadi terlalu sibuk membagikan emosinya untuk semua rasa. Porsiku jadi berkurang. Awalnya aku maklum. Pasrah karena ibu begitu menghayati proses ini. Baginya menyebarkan bahagia dengan aroma, adalah saat paling berharga karena ibu merasa bisa berguna. Namun lama kelamaan, di lidahku masakan ibu jadi hambar, tawar seperti emosi yang dingin.

Aku lihat ibu begitu sibuk dengan aktivitasnya di dapur. Ambil bumbu ini bumbu itu, bahan dari sana dan dari situ, lalu mengolahnya jadi masakan penuh selera. Semua itu sangat menggoda. Aku ingin sekali mencicipi masakan ibu yang itu. Beda sekali dengan yang aku makan. Meski penampakannya sama, ada emosi lain yang hilang hingga membuat semuanya terasa hambar seperti tak bernyawa. Ya, tak ada lagi emosi cinta. Aku terus mencari rasa itu. Rasa yang sudah lama sekali hilang. Tapi aku tak menemukannya. Akhirnya aku hanya bisa cemburu pada masakan ibu. Lewat aroma yang mengalir di udara saat ibu asyik memasak sambil bersenandung manja. Rasanya sungguh menyesakkan.

Pernah sesekali kucoba cicipi masakan ibu yang bukan untukku. Wow, ini sangat berbeda. Ini lain rasanya. Ada harapan, senang, bercampur bahagia larut dalam aroma. Seperti manis, pedas, asin, yang bersatu hingga membangkitkan satu selera. Aku ingin yang ini ibu. Tidakkah kau lihat aku begitu rindu rasa ini. Tapi ibu tak bergeming. Entah sadar atau tidak, ibu tampak tak terlalu menyimak. Aku jadi ragu. Mundur perlahan, sambil terus mengintip, dan mencuri resep bahagia masakan ibu. Karena aku tak bisa hidup tanpa itu. Tanpa kasih sayang, cinta, dan masakan ibu.

Perlahan aku tahu. Ibu tak pernah percaya padaku. Mungkin lebih tepatnya ibu tak mau menaruh harapan banyak di pundakku. Ibu tahu aku letih, dan memilih untuk membiarkanku larut dan bersenyawa dalam duniaku. Ibu takut kecewa, dan tak ingin meneteskan air mata. Ibu pikir aku tak punya waktu tersisa, untuk sekedar mencicipi emosi penuh cinta yang terselip dalam masakannya. Ibu tak tega melihat masakan yang dibuatnya penuh cinta, dibiarkan begitu saja. Semua yang awalnya hangat dan begitu beraroma, menjadi dingin dan tak lagi menggoda. Sama seperti dirinya yang kini kesepian dan segera menua.

Ibu dan masakannya adalah satu refleksi. Dengan cara itu aku tahu apa yang sedang ibu rasakan. Kini aku begitu ingin menikmati masakan penuh selera, sekaligus penuh harapan dan semangat dari ibu. Masakan ibu adalah energi terbesar dalam hidupku. Itulah alasan aku meramu cita-cita dan tujuan. Oh ibu, andai kau dengar aku. Aku ingin lagi mencicipi masakan ibu yang kaya cita rasa, kaya aroma cinta. Aku tak mau lagi cemburu pada masakan ibu. Yang selalu tahu apa yang ibu rasakan. Yang selalu mendengar kisah seru dan sendu dari ibu. Yang selalu setia menjadi teman sejati ibu.

Hari ini aku pun kembali menebak-nebak. Ada rasa apa ya dalam masakan ibu? Manis, pedas, asam, asin, pahit, atau justru nikmat karena bertabur cinta? Hmm.. sepertinya hanya ibu yang tahu..

Dua Sisi

•August 6, 2009 • Leave a Comment

Sisi / hal-hal yang saling berseberangan, tetapi justru membentuk satu bidang/

2208102635_5b84314541_m

Selalu ada hitam, kalau kau tanya putih. Selalu hadir malam, saat kau jumpa siang. Dan selalu tiba sengsara, setelah segalanya bahagia. Atau sebaliknya.

Hidup memang penuh dengan dua sisi. Kiri-kanan. Depan-belakang. Atas-bawah. Semua berlawanan meski belum tentu bertentangan. Kadang sinergi, kadang sekedar melengkapi.

Kala kau tertawa, pastilah disana ada yang bermuram durja. Suntuk. Kecewa. Menahan helaan nafas demi nafas, untuk sekedar mengikuti irama nasib, menikmati lantunan kehidupan.

Aku jadi tahu. Kalau apa yang kita lihat, seringkali hanyalah fatamorgana. Kulit di luar, isi di dalam. Tidak pernah kita tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dan apa makna dibaliknya.

Terlalu dangkal rasio kita untuk mencerna sebuah fenomena. Karena kadang mu’jizat datang di tengah tangisan duka cita. Tapi tidak berlaku untuk semua. Tergantung kehendak-Nya.

Lagi-lagi, dia yang tersenyum, aku yang menangis. Itu dua sisi, kan?!

Jelajah Hutan Tangkuban Perahu

•August 4, 2009 • 1 Comment

Tangkuban Perahu / gunung yang mahsyur dengan cerita Sangkuriang dan perahu terbaliknya, hingga membuatku jungkir balik saat mendakinya /

3684182108_65620d725f_m

Pagi itu udara di sekitar Terminal Ledeng terasa cukup dingin. Sinar matahari belum menyengat. Hanya lalu lalang angkot yang sedikit menambah hawa panas. Aku, bersama dua orang sahabatku, Adis dan Kime, masih menikmati pisang goreng yang diberikan oleh Ulu. Asapnya saja masih mengepul, pasti terbayang kan lezatnya. Sambil sesekali bercanda, kami berempat menunggu datangnya angkot krem dengan label Stasiun-Lembang yang siap mengantarkan kami untuk berpetualang.

Ya, hari itu kami berencana untuk mengunjungi salah satu objek wisata paling terkenal di Jawa Barat, Gunung Tangkuban Perahu. Agar lebih menarik, kami sengaja memilih rute yang tidak biasa. Hanya satu modal kami saat itu, NEKAT!! Tanpa pernah tahu medan seperti apa yang akan kami temui. Bahkan untuk Kime, ini adalah perjalanan pertamanya ke Gunung Tangkuban Perahu. Pantas saja dia menggunakan sepatu teplek dengan tas jinjing di tangannya. Ulu malah sempat nyeletuk, “kayak mau ke mall, Ki..”, yang diiringi gelak tawa dari kami semua.

Aku sendiri belum pernah melewati rute ini. Satu-satunya informasi yang aku tahu, rute ini mengacu pada sebuah jalur yang dipaparkan Pak Budi Brahmantyo dan Pak T. Bachtiar dalam bukunya yang berjudul Geowisata. Dalam buku itu, dijelaskan bahwa untuk mencapai Gunung Tangkuban Perahu kita bisa menjelajahi Hutan Jayagiri hingga tiba di puncak Gunung Tangkuban Perahu. Selanjutnya perjalanan diteruskan dengan menuruni lereng hingga ke Kawah Domas, menembus semak belukar, menapaki hamparan perkebunan teh, sampai akhirnya tiba di Ciater. Wow tampaknya seru, dan percayalah, apa yang kami temui ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang kami bayangkan sebelumnya.

***

Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 pagi. Tak lama berselang angkot yang kami tunggu menjelang. Segeralah kami menaiki angkot itu. Jangan bayangkan suasana yang penuh sesak. Entah kebetulan atau tidak, angkot yang kami naiki cukup lowong. Isinya hanya kami berempat dan tiga orang penumpang lainnya. Suasana yang nyaman tadi membuat kami asyik bercengkrama selama perjalanan. Jadilah waktu 45 menit seperti tak terasa. Tiba-tiba saja kami sudah berada di Lembang, dan berhenti tepat di sebuah pertigaan dengan sebuah plang bertuliskan “Makam Junghun”.

Di hadapan kami, terbentang jalan lurus sepanjang 2 km dengan sedikit mendaki menuju pintu masuk Hutan Jayagiri. Tetapi sebelum kesana, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Makam Junghun seperti yang kami lihat di plang tadi. Lalu siapakah Junghun? Beliau adalah seorang ahli kina yang sangat terkenal pada saat bumi parahyangan ini masih berupa hamparan perkebunan. Percaya atau tidak, dulu negeri tempat kita berpijak ini adalah pengekspor kina terbaik di seluruh dunia. Ironisnya, ketika melihat Makam Junghuhn, tidak terlihat tanda-tanda kemasyhurannya. Area pemakaman itu tampak tidak terawat. Padahal, jasa yang diberikan Junghuhn tak ubahnya seperti Bosscha dengan sumbangsihnya pada perkebunan teh di Indonesia. Jadi, bagi yang sudah pernah mengunjungi Makam Bosscha di Perkebunan Teh Malabar, Pangalengan, pasti akan merasa miris dan sedikit mengelus dada melihat pemandangan di depan mata.

Area pemakaman itu dipagari dengan sebuah gerbang yang terkunci. Untung saja ada celah tembok dan sebilah kayu yang seolah menjadi tangga untuk kami memasuki makam tersebut. Di sekeliling makam, tampak deretan pohon kina. Menurut pengurus makam ini, kina yang ditanam di Lembang adalah kina hasil hibrida antara bibit kina dari luar negeri dengan bibit lokal. Hal ini terkait perbedaan karakteristik dari kedua jenis kina tersebut, yakni kina dari luar negeri memiliki batang yang tinggi tetapi getahnya sedikit, sebaliknya kina lokal memiliki batang yang rendah tetapi getahnya banyak. Alhasil hibrida yang dihasilkan dari kedua jenis ini memiliki batang yang tinggi dan getah yang banyak. Itulah kenapa kina tersebut memiliki kualitas yang sangat baik. Oya soal pemilihan lokasi di Lembang, konon menurut Junghuhn tanah di Lembang adalah tanah yang paling cocok untuk perkebunan kina. Satu hal lagi yang menarik, dari sana kita bisa melihat pemandangan Obsevatorium Boscha yang berdiri anggun di atas bukit. Cantik sekali. Hmm, itu salah satu scene terbaik yang saya lihat dalam perjalanan ini.

Cahaya matahari sudah mulai terik. Tapi perjalanan kami yang sebenarnya baru saja dimulai. Dengan langkah mantap kami memasuki gerbang Hutan Jayagiri sambil memandangi indahnya patahan Lembang yang membentuk gawir-gawir alam. Jalur ini dibuka dengan trek yang cukup menanjak. Apalagi saat itu masih musim hujan, jadilah tanah setapak itu menjadi licin dan berair. Kime, tentu saja yang paling kerepotan. Dengan nafas tersengal dia terus berusaha mendaki, sementara kami bertiga malah asyik berfoto-foto. Hutan Jayagiri memang indah, khas dengan deretan pinus yang membuat kami seolah tenggelam dalam rerimbunan pohon. Tapi hutan ini tidak lebat, sinar matahari bisa dengan bebas menelesup celah-celah ranting dan dedaunan. Sungguh pemandangan yang menarik, dibarengi dengan udara yang sejuk dan kicau burung yang sesekali menyeruak.

Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri jalan setapak, yang seolah telah terbentuk dari jejak-jejak para petualang yang telah melewati jalur ini sebelumnya. Untuk kami yang baru pertama kali mengunjungi Jayagiri, tentunya ini sangat membantu. Tak terasa 2 jam sudah berlalu, dan kami masih terus mengikuti kelok jalan setapak itu, hingga kami tersadar bahwa kami sepertinya menempuh arah yang salah. Tanpa kompas dan peta, atau petunjuk lainnya, kami memang tak tahu dimana koordinat kami sekarang dan kemana seharusnya kami melangkah. Tadi memang ada persimpangan, satunya jalan menanjak, yang lan jalan menuju sungai. Kami pilih jalan menuju sungai. Tetapi itu malah mengantarkan kami ke sebuah padang yang entahlah apa namanya. Tapi kami sadar itu bukan arah yang dituju. Kami mulai bingung. Akhirnya kami kembali ke persimpangan tadi, dan mencoba arah lainnya. Tetapi sepertinya ini bukan trek jalan setapak. Ini adalah jalur air dari puncak bukit. Sangat terjal dan licin. Beberapa kali kami saling berpegangan agar bisa sampai ke atas, dan setibanya di sana kami masih belum tahu haru kemana.

Lelah, tiba-tiba saja menyeruak di sekujur tubuh kami, hingga kami putuskan beristirahat sejenak. Parah sekali, kami tidak membawa bekal apa-apa kecuali sebotol air minum yang kubawa dan sewadah mi goreng yang Ulu bawa. Tanpa ragu, hidangan itu akhirnya menjadi milik bersama dan habis dalam sekejap. Kami mendapat energi baru, sambil terus berpikir ke mana sebaiknya kami teruskan arah perjalanan. Tiba-tiba terlihat serombongan orang sedang berjalan dari jarak yang tak cukup jauh. Segera saja kami kejar. Kami tanya arah yang benar, dan mereka bilang ini memang jalur meuju Tangkuban Perahu. Mereka bahkan menunjukkan sebuah menara telekomunikasi, yang hanya tampak sebesar telunjuk, dan mengatakan bahwa itulah puncak Tangkuban Perahu. Fiuuhh, kami lega. Setidaknya kami kembali ke jalur yang benar. Perjalanan pun dilanjutkan.

Jalur kami lewati kali ini tampaknya adalah sebuah trek mobil offroad yang penuh dengan genangan air hingga menyerupai sungai kecil. Adis malah sempat bergaya seolah-olah sedang menaiki sampan sambil berdiri di gundukan tanah yang memanjang. Ada-ada saja memang, tapi kami memang benar-benar menikmati setiap kejutan dalam perjalanan ini. Tak lama kemudian, kami pun tiba di suatu areal yang mirip hutan, namun tidak pohon-pohonnya tidak terlalu tinggi. Rupanya lokasi itu adalah jalur trek motorcross yang biasa diliwati para crosser melintasi Hutan Jayagiri. Disana kami juga berpapasan dengan serombongan orang dari sebuah kompleks perumahan di Bandung, yang sedang berwisata ke Gunung Tangkuban Perahu. Menariknya, kostum yang mereka kenakan begitu santai, beda sekali dengan kami yang baru saja nyasar. Kalau wajah kami penuh peluh keringat, kucel, dan kelaparan, mereka tampak segar dan bersih. Bahkan ada seorang wanita yang membawa anjing pudelnya, dengan topi lebar dan kaca muka yang begitu besar. Ckckck..kami seperti bukan sedang di hutan..

Lantas untuk beberapa saat kami berjalan bersama rombongan itu. Namun, sikap mereka yang berisik membuat kami jengah. Tiba-tiba saja kami memutuskan untuk berpisah dan menyelinap masuk ke dalam rimbun hutan, setelah sebelumnya bertemu dengan orang lokal disana yang baru saja pulang dari Tangkuban Perahu melalui jalur hutan. Eh..rombongan itu rupanya malah mengikuti kami. Dasar. Kami jadi terdorong bergerak secepat mungkin agar tak terkejar. Melewati jalur bebatuan, melompati batang pohon melintang, sampai menyeberangi alur sungai kecil, hingga akhirnya menemukan jalan aspal. Ya, akhirnya setelah 4 jam berjalan tanpa tahu arah, kami tiba di tempat parkir Gunung Tangkuban Perahu. Peluh, lelah, dan letih yang tadi menusuk, sekarang jadi tak terasa lagi. Dengan senyum mengembang dan wajah memerah, kami pun tak sabar menaiki kendaraan ontang-anting yang mengantarkan kami ke puncak Gunung Tangkuban Perahu.

Melihat kawah Gunung Tangkuban Perahu memang tak pernah membuatku bosan. Apalagi sangat jarang ada kawah gunung api aktif yang bisa dilihat sedekat ini. Harum belerangnya membawa nuansa eksotis suasana pegunungan. Saat menikmati pemandangan Kawah Ratu, kami serasa melihat mangkuk raksasa yang sangat besar dan dalam. Cuaca juga cukup cerah sehingga lekukan tanah pada dinding kawah terlihat sangat jelas. Benar-benar pemandangan yang mengagumkan. Tapi sayang, begitu menyusuri bibir Kawah Ratu, indahnya panorama ini sedikit terganggu dengan padatnya tenda-tenda para penjual cinderamata. Kawasan wisata ini jadi seperti tak tertata. Dan yang paling menyebalkan, banyak pedagang menawarkan barang dagangannya dengan cara memaksa. Fasilitas umumnya pun minim sekali. Ah, pantas saja beberapa waktu lalu, kawasan wisata ini dicoret dari daftar tujuan wisatawan asing. Sayang sekali bukan..

Gunung Tangkuban Perahu merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif di Pulau Jawa. Konon, gunung ini pernah meletus beberapa kali, mengeluarkan isi perutnya sehingga menghasilkan sembilan kawah yang tersebar di berbagai tempat di sekitar puncak gunung. Salah satunya Kawah Domas, dan itu menjadi tujuan kami berikutnya. Setelah puas menikmati ketan bakar di puncak gunung, tanpa berlama-lama kami pun meneruskan perjalanan menuruni lereng Gunung Tangkuban Perahu dengan trek menurun sepanjang 1,2 km. Sambil melewati undakan tanah menyerupai anak tangga dengan pembatas kayu hutan, kami begitu menikmati indahnya pepohonan di sepanjang jalur ini. Pastinya kesempatan untuk berfoto dan mengabadikan momen-momen seru tak sedikit pun kami lewatkan.

Tak sampai satu jam, aroma belerang dari Kawah Domas telah menyambut kedatangan kami. Tampak bebatuan belerang berserakan dimana-mana. Disana juga terdapat beberapa kolam kecil dari sumber air panas alami, tapi bukan untuk berenang. Airnya panas sekali, bahkan sampai mendidih. Yang menarik, pengunjung bisa merebus telur di kolam itu. Tinggal tunggu beberapa menit saja, telur rebus siap dinikmati. Kita juga tak perlu repot-repot membawa telur, karena disana banyak pedagang yang menjual telur, meski dengan harga yang berlipat-lipat. Di kolam lainnya, dengan air yang tidak terlalu panas, kita bisa merendam kaki sambil berisitirahat sejenak. Kabarnya air belerang memang berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit sekaligus memberi efek terapi pada tubuh. Jadi, setelah pegal berjalan, kaki kami kini serasa dipijat. Rasanya enak sekali.

Setelah puas berelaksasi, perjalanan dilanjutkan menuju ke bawah untuk menyusuri aliran sungai kecil dan mencari jalan setapak ke arah Ciater. Kali ini kami kembali ke hutan. Tapi bukan deretan hutan pinus seperti di Jayagiri. Hutan ini lebih tepat disebut semak belukar. Agak susah memang untuk menemukan jalan ini karena jarang dilalui oleh pendaki. Awalnya kami sempat khawatir akan tersesat lagi. Apalagi sepanjang jalan kami menemui banyak ilalang-ilalang tinggi yang menutupi jalan. Satu-satunya petunjuk kami adalah arah panah yang ditinggalkan oleh pendaki sebelumnya. Kami pun patuh mengikuti rute ini, sambil terus mengikuti jalan setapak hingga tiba petualangan ini mengantarkan kami ke perkebunan teh Ciater.

Sesaat kami tak percaya, kalau kami sudah sampai perkebunan teh. Setelah tadi deratan hutan pinus, aroma belerang, semak belukar, kali ini yang ada di hadapan kami adalah rimbunnya daun teh. Hijau dan sangat menyejukkan mata. Saking senangnya, kami bahkan sempat tidur-tiduran di atas rimbunnya pohon teh. Selanjutnya, inilah saatnya tea walk. Ajaib, itu yang kami rasakan ketika menyusuri celah-celah jalan di kerapatan kebun teh. Tanpa tahu jalur ini menuju ke mana, kami begitu santai menyusuri setiap jengkal alur bukit teh ini, sambil bergerak menuju tujuan akhir kami yaitu: menemukan (lagi) jalan aspal. Setelah lebih dari satu jam melenggang di bukit hijau, kami pun sampai di Jalan Raya Ciater, Subang. Tak terasa ternyata waktu sudah menunjukkan pukul17.00. Jadi, sudah sekitar 10 jam kami berpetualang, dan sekarang saatnya pulang. Tapi naik apa ya? Tidak ada kendaraan umum yang bisa mengangkut kami langsung ke Bandung dari sini. “Gimana klo kita nebeng mobil kol sayur aja?!”, sahut Ulu tiba-tiba. Ide cemerlang. Ah, kenapa tidak terpikirkan ya. Lantas dengan gaya ala backpacker yang kehabisan ongkos, kami pun mejeng di pinggir jalan sambil mengacung-acungkan jempol, pertanda minta tumpangan pada kendaraan yang lewat. Benar saja, tak berapa lama, sebuah kol sayur hitam lantas berhenti. Setalah mengutarakan maksud kami untuk menumpang, pak supir yang baik hati itu mempersilahkan kami untuk naik. Terima kasih pak, dan inilah akhir dari perjalanan kami.

***

Entah sudah berapa kilometer jarak yang kami tempuh hingga sejauh ini. Tapi kami tak peduli. Pulang dengan menaiki mobil kol sayur ala petualangan sherina adalah ending yang sempurna untuk perjalanan ini. Terus terang saja, saking girangnya, kami malah sibuk foto-foto di atas mobil kol sambil bergaya ala tukang sayur, lengkap dengan topi dan keranjang sayur. Kaki kami memang terasa berdenyut, tapi rasa lelah dan letih sirna ketika sepoi angin Lembang mengantarkan kami kembali ke Bandung. Aku pikir, ini adalah salah satu petualangan terbaikku. Semuanya serba spontan dan tidak diduga. Kalau suatu hari kamu ingin mendapatkan pengalaman yang berbeda ketika pergi ke Tangkuban Perahu, rasanya rute ini patut dicoba. Jangan lupa siapkan fisik prima, karena kita akan menjelajahi Hutan Tangkuban Perahu. Selamat mencoba!

Abrakadabra

•January 9, 2009 • 4 Comments

Keajaiban / saat yang tak mungkin jadi mungkin, yang tak ada jadi ada, yang tak bisa jadi bisa, semuanya tergantung kamu /

419717468_bec9aceb2e_m1

Kita sering mengeluh tentang hidup yang semakin rumit..tentang harga-harga yang naiknya selangit..tentang rutinitas yang yang membosankan..tentang masa lalu yang memilukan..dan sejuta ocehan lainnya yang tanpa kita sadari..semakin membuat kita gelisah, gundah, resah..hingga kadang kita berharap ada keajaiban datang dan bisa mengubah semuanya..

Keajaiban memang ada..tapi kadang tak seperti kisah cinderella..yang didatangi ibu peri dan pangeran berkuda.. hingga akhirnya bisa tinggal di istana..bagiku, ia hanya hadir untuk mereka yang benar-benar percaya..untuk mereka yang berani bermimpi..dan memiliki keyakinan bahwa itu semua akan menjadi nyata..meski kadang dengan cara yang berbeda..

Setitik keajaiban sebenarnya telah lahir..saat kau mulai mengubah cara pandang dan persepsimu tentang sesuatu..ia hadir dengan cara yang sederhana meski kadang sulit dicerna..ia datang seperti secercah cahaya di tengah laut dalam..ia menghampiri sesaat hingga bahkan kau pun tak sempat sadar..bahwa ia ada tepat ketika kau mencoba berdamai dengan hidupmu..berkompromi dengan nasibmu..serta menghargai apa yang terjadi sebagai persembahan terbaik dari-Nya..

Lihat saja tukang patri itu..di tengah zaman yang semakin canggih..mengapa kau selalu berpikir kalau ia akan menderita..coba sedikit tengok dan kau lihat pedagang asongan disana..mengapa juga kau berpikir bahwa ia tak berbahagia..atau kau malah mengasihani mbok-mbok jamu yang setiap hari memikul gendongan beras kencur..apa kau pikir hidupnya sepahit jamu yang ia bawa..padahal ia begitu bugar dan masih tersenyum sambil menawarkan aneka rasa..

Mereka boleh jadi bukan orang kaya..atau mungkin mereka memang orang miskin..tapi siapa bilang mereka sengsara..mereka itu justru orang bahagia yang punya sedikit uang..ya, karena yang mereka pahami bahagia bukanlah ratusan juta rupiah di bank..atau rumah mewah yang besarnya sekebun binatang..bahagia itu ketika mereka bisa bersyukur atas apa yang mereka miliki..dan mereka bisa bermanfaat bagi orang lain dengan sedikit keahlian yang mereka miliki..

Itulah persepsi..kau lihat yang ingin kau lihat..kau dengar yang ingin kau dengar..kau rasa apa yang ingin kau rasa..meski itu hanya bersumber dari satu sudut pandang..yang kau yakini sebagai sebuah kebenaran.. andai saja kau sudi lihat sisi lainnya..kau pasti akan temukan hal yang berbeda..bukan..bukan berarti kau salah dengan sebelumnya..hanya saja masih ada kebenaran lainnya..yang bisa jadi tak pernah terpikirkan olehmu..

Kebenaran absolut memang hanya bersumber dari Tuhan..kita, manusia, hanya bisa memberi pandangan sebatas wawasan yang kita punya..mungkin kau masih ingat kisah tiga orang buta yang
mencoba menebak seperti apa bentuk seekor gajah..bagi yang meraba kulitnya, gajah tampak seperti makhluk yang besar dengan kulit kasar dan liat..bagi yang memegang buntutnya, gajah hanyalah hewan yang tinggi dengan ekor berbulu..sementara bagi yang memegang belalai, gajah adalah binatang raksasa yang hidungnya saja sebesar paha manusia..

Hidup bukanlah sebuah kompetisi..melainkan hanya sebuah perjalanan..dimana pengalaman masa lalu adalah kenangan..dan indahnya masa depan masih dalam angan-angan..tetapi hari ini adalah anugerah.. that’s why today we call it present day..karena itu, dalam hidup semua orang berhak jadi pemenang..sesuai caranya masing-masing..tentu saja semuanya berhak untuk berbahagia..dalam persepsi yang ia yakini..

Akhirnya awan mendung di langit-langit sirna..dan berganti menjadi pelangi berwarna warni..karena aku tahu langit tak selamanya gelap..hingga ada kalanya terang..dari sana kulihat secercah harapan mulai berbinar..menyambutku dengan sayapnya yang membentang dan bergumam..” Tuhan tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, tetapi Dia selalu memberi yang kita butuhkan”..sejenak aku pun tersadar..ada cahaya keajaiban mulai bersinar dari genggamanku..

So, without knowing what, who, or anything..just pray and let it through..do ur best n let God take a rest..coz someday we will know..what, who, or anything we actually needed..just believe in..ok !

Miss U Like Crazeh

•January 9, 2009 • 7 Comments

Kangen / suara hati ketika kamu ingin dia hadir dihadapanmu /

2952715100_74db9c8858_m

“Hmm..tumben sampe sekarang blum sms..”
“Hai manis.. dah makan belum…??”
“Duh bulan lagi bulet nih..kayaknya asik nih klo jalan..?!”
“Brr..dingin banget..coba aja ada yang bisa dipeluk..”
“Hei angin tolong bawa gue kesana dong..”
“Disini rame banget..tapi kok kayak ada yang kurang..ga ada yang spesial sih..”
“Wah seru banget filmnya..sayang nontonnya sendirian..”
“Eh lucu banget bajunya..klo kamu yang pake pasti lucu deh..”
“Hiks..is there anyone who can give a shoulder to cry on..??”
“Pengen makan cheese cake..tapi klo sendiri kayaknya ga abis deh..”
“Sial..gw mau makan..bukan mau inget elu..!!”
“Hellow..kok dari tadi ga nelpon-nelpon..lagi sibuk ya..??”
“Plis..gw butuh elu..sekarang..”

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.