Renungan Malam

Benang Kusut / kumpulan benang yang membuat emosimu campur aduk, hingga jadi carut marut /

262599757_07d69406e2_m

Aku bilang pada malam ‘ maukah kau menemaniku? ’. Namun ia hening tanpa suara. Sepi tak berbicara. Hanya ada kerlip bintang yang mungkin jadi pertanda. Kedip sekali untuk ya, dua kali untuk tidak. Kutunggu hingga ribuan detik. Bintang kini malah malu-malu. Tak berkerlip sama sekali. Lantas aku harus bagaimana? Berceloteh sendiri atau melamun saja? Bahkan malam pun enggan mendengarkanku. Untung saja bulan tahu aku sedang gundah gulana. Cahayanya yang tadi buram tertutup awan, kini ia tampakkan dengan sempurna. Bulat, utuh, dan mempesona. Seolah tersenyum dan bergumam ‘ayo lanjutkan ceritamu, apa lagi yang kau tunggu?!’ .

Saat itu aku ingin teriak. Melemparkan semua benang kusut yang bergumul dalam pikiranku. Aku tahu itu sulit terurai. Tapi aku ingin dia pergi. Meninggalkanku dalam damai, tenang, tanpa perlu bilang kapan dia mau kembali pulang. Dia tak boleh berlama-lama dalam otakku. Membuat rasa bahagia, senang, dan gembira terhimpit. Jadi tak bisa bergerak. Satu-satunya harapanku adalah saat malam datang, dan rasa kantuk menyerang, karena itu kesempatan emas untuk lari dari kenyataan. Membiarkan benang kusut keluar dengan sendirinya. Entah kemana.

Tapi malam ini, aku tak bisa menahan diri. Aku tak mau lagi berkompromi. Esok pagi, dia harus lenyap, musnah, dan kondisi apapun yang membuat aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Aku pikir malam, sang pemilik bunga tidur, mungkin bisa membantuku. Mungkin dia tahu kemana benang kusut biasa pergi.  Aku akan menyusulnya dan membiarkan dia tetap disana. Aku akan bilang bahwa ia tak perlu pulang, karena aku tak butuh dia. Sudah saatnya bahagia, senang, dan gembira bersenyawa. Karena itu, aku perlu lebih banyak ruang di kepala.

Aku pun membuat kesepakatan. Benang kusut itu boleh tinggal, tapi tak bisa lama-lama. Segera setelah aku temukan rumah baru untuknya, dia harus langsung angkat kaki. Dia setuju. Syaratnya cuma satu. Dia akan pergi dalam keadaan terurai, tidak kusut seperti sekarang ini. Baiklah, pikirku. Bukan hal yang mudah, tapi kuyakin aku bisa melakukannya. Benang kusut juga tampak tak betah lama-lama. Dia juga bosan menetap disini tanpa arah tujuan. Dia akan bebas saat benang tak lagi kusut.

Bulan lalu benderang. Seolah memberi pencerahan di ubun-ubun kepalaku. Bintang juga tak berkedip. Tapi formasinya merujuk pada satu arah yang ada tepat di hadapanku. Mereka semua sepakat untuk berkata ‘Ayo terus berjalan! Ikuti langkah kakimu dan kau akan sampai di tempat tujuan’. Ya, aku begitu lelah mencari, padahal semua itu ada di depanku. Dengan sebuah langkah kecil, perjalanan mengurai benang kusut ini kini telah dimulai. Entah esok atau lusa, benang kusut itu pasti segera menghilang, karena aku telah menguraikannya. Aku pun jadi bisa tidur nyenyak lagi.

~ by dimasandya on January 9, 2010.

2 Responses to “Renungan Malam”

  1. ‘Ayo terus berjalan! Ikuti langkah kakimu dan kau akan sampai di tempat tujuan’. ayo ayo dimas, dimas goooo!

  2. Halo Dimas,Tulisan Anda bagus sekali. Mahasiswa ITB juga kan ? Wah :)

    Jika berkenan meluangkan waktu dan pengalamannya, mohon bisa dibagi di web user generated http://www.masukitb.com.

    masukitb adalah tampilan kehidupan Kampus Ganesha ITB, wadah bertanya, berdiskusi, dan berinteraksi, antara para mahasiswa atau alumni ITB, dengan para pelajar yang berminat menjadi bagian dari komunitas ITB.

    Kami berharap, Anda mau berbagi dengan pelajar dari seluruh Indonesia, yang berminat masuk ITB.

    Terima kasih :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.