Kota / tempat tinggal para kaum urban, masa depan bagi para pendatang /

Dua bangunan besar yang tampak seperti monumen selamat datang, berdiri kokoh mengapit sebuah jalan di perbatasan. Desainnya sangat unik. Setipe dengan bangunan sudut khas Eropa, namun beratapkan formasi Julang Ngapak hasil adopsi dari seni arsitektur tradisional Sunda. Tak jauh dari sana, ada sebuah bundaran air mancur dengan monumen bunga Patrakomala raksasa di tengahnya. Cantik sekali. Apalagi di kiri kanan jalan tampak orang berjalan lalu lalang di pedestrian yang begitu nyaman dengan rimbunnya pepohonan. Jalanannya pun terasa mulus. Tak ada kerikil atau lubang. Sebuah sambutan yang sangat mengesankan. Khususnya bagi para pendatang.
“Welcome to De Green Metropolis”.
Begitulah sapaan yang tertera di sebuah billboard raksasa. Disana ada sepasang laki-laki dan perempuan memakai kostum tradisional dengan senyum tiga jari yang sangat menawan. Malah ada yang bilang, gambar itu seperti sebuah iklan pasta gigi. Tetapi gambar itu bukan sekedar citra semata, atau sekedar tempelan yang menyejukkan mata, melainkan sebuah representasi dari masyarakatnya. Orang-orang yang tinggal disini memang ramah. Someah katanya. Bicaranya juga santun. Jangan harap Anda merasa tersesat disini, karena pasti akan selalu ada yang mengantarkan Anda ke tempat tujuan. Entah itu oleh seorang polisi wisata, atau bahkan masyarakat biasa.
Sebenarnya kota ini sangat metropolitan. Dengan penduduk sekitar 5 juta orang di malam hari, dan juta orang di siang hari, ia menjadi sumber aktivitas kehidupan bagi kebanyakan orang. Ada yang mencari nafkah, menuntut ilmu, mencari insipirasi, atau sekedar berlibur dan berbelanja. Semua yang kamu butuhkan ada disini. SEMUANYA. Termasuk kenyamanan fasilitas dan kesejukan udaranya. Ini jadi semacam paket komplit. Tak heran jika di akhir pekan, semua orang berjubel datang kesini. Tak peduli untuk puluhan atau malah ratusan kalinya, karena setiap kunjungan selalu memberikan pengalaman yang berbeda. Dan tentu saja berkesan, hingga rindu kembali lagi. Terlebih lagi, seiring dengan banyaknya institusi pendidikan yang bermarkas disini, masyarakatnya pun menjadi sangat terpelajar, dan tentu saja tuan rumah yang baik bagi siapapun yang berkunjung.
Pemukiman disini terlihat begitu hijau dan dinamis. Mungkin itulah alasan kenapa masayarakatnya betah berlama-lama tingggal disini. Tampak deretan rumuh susun yang sangat modern, berbaris dengan deretan apartemen, namun tetap dijamuri oleh landed house yang sangat berkarakter, berjejer rapi, diselilingi pepohonan dan taman bunga mungil. Entah sejak kapan, duplex menjadi fenomena di kota ini. Tapi tak ada tema yang ke-Eropa-an ala Alpen, Venesia, atau semacamnya kecuali pada bangunan kolonial yang memang masih tersisa. Yang ada adalah bangunan unik yang mengadaptasi arsitektural modern minimalis berpadu dengan ornamen lokal sehingga terlihat sangat menawan. Belum lagi deretan pertokoannya yang sangat memikat, menyajikan produk berkualitas dari berbagai negara, serta karya kreatif anak bangsa. Hal ini semakin sempurna dengan kualitas kenyamanan yang tiada dua. Bersih, rapi, teduh, adalah daya tarik yang tak bisa dibantah setiap pelancong ketika mampir kemari.
Buat yang tidak punya kendaraan pribadi, itu sama sekali bukan masalah besar. Disini ada monorel, trem, hingga bus tingkat yang siap mengantarkan Anda kemanapun yang Anda mau. Rutenya sangat jelas, tarifnya pun pasti. Keamanannya jangan diragukan lagi. Semuanya sudah diasuransikan. Prasarana bandara, stasiun, dan terminal juga sangat mumpuni dengan aksesibilitas yang sangat memadai. Menampilkan aksen tradisional nan modern, menjadi senyum selamat datang dan selamat jalan yang indah bagi seluruh pendatang dan pemulang. Pengguna kendaraan pribadi pun akan sangat dimanjakan. Selain petunjuk jalan dan rambu-rambu yang teramat jelas, gedung parkir juga tersedia dimana-mana. Tapi buat para pengemudi yang nakal dan suka ugal-ugalan, siap-siap saja menemui bencana besar. Polisi disini galak sekali. Tegas, selugas-lugasnya. Kondisi yang dianggap aneh jika dibandingkan dengan tempat lainnya.
Memasuki pusat kota, atau biasa dikenal sebagai alun-alun, ada pemandangan yang sangat menakjubkan. Tampak deretan bangunan-bangunan bersejarah menjadi kekuatan heritage yang menjadi magnet wilayah ini. Anda benar- benar seperti memasuki lorong waktu dan hidup di zaman kolonial, meski yang disajikan justru kekhasan tradisional, lengkap dengan seni dan budayanya. Sepasang menara antik menjulang, menawarkan gambaran udara kota ini. Pemandangan yang amat menarik. Uniknya, ternyata disini tidak hanya ada satu, tetapi dua pusat kota di sisi barat dan timur dengan alun-alun yang memiliki kekhasan tersendiri. Jika yang satu kental dengan nuansa kota tua, yang lainnya malah dipenuhi dengan ambiens modern yang menjadikan pernak-pernik budaya kontemporer. Disini tidak ada menara, yang ada justru bangunan-bangunan menjulang hemat energi dengan green house di puncaknya. Semua disajikan sangat kreatif sesuai identitas kota ini. Ini lebih dari sekedar landscape. Inilah surga kreativitas bagi para pembaharu. Kaum urban yang menjunjung tinggi nilai lokal dan keberlanjutan.
Yang menghujam di memori semua orang, sekaligus menjadi salah satu landmark yang dikenal seantero negeri, adalah taman hutannya yang luar biasa indah. Jika alun-alun merupakan jantung, sebagai penanda kesibukan kota, maka taman hutan ini adalah paru-paru yang selalu memberikan oksigen dan inspirasi bagi semua warganya. Apalagi di atasnya, melintang sebuah jembatan cable stayed yang sudah lebih dulu menjadi ikon wilayah ini, membelah rimbunnya pepohonan. Benar-benar sinkronisasi yang sangat harmonis. Taman hutan ini seolah menjadi ibu dari segala tanaman yang ada di kota ini. Kebun segala bibit. Taman semua hewan. Jajaran pohon di kiri kanan jalan seolah mengiduk ke taman ini. Sungai-sungai yang menyusuri sudut-sudut kota, seolah menghulu disini. Disinilah rumah bagi burung cangkurileung, binatang mungil seperti tokek atau kunang-kunang, hingga ribuan manusia yang sekedar ingin berkumpul, bekreasi, bermain, atau sekedar berekspresi.
Landmark yang tersebar dimana-mana, jadi bagian apik dari penataan kota ini. Hampir di setiap persimpangan besar ada sebuah monumen yang berkisah tentang sejarah kota. Karena itu, dimana pun warganya bisa terus belajar. Apalagi banyak juga museum yang terawat dengan baik, yang popularitasnya mampu menyaingi mall atau tempat tujuan wisata lainnya. Semua menjadikan belajar sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kota ini. Jadi jangan heran jika ada istilah museum kota disini. Semua bangunan, jalan, monumen, seolah saling bicara dan bercerita tentang kehidupan kota. Aktivitas berkeliling kota, serasa merekatkan kepingan-kepingan puzzle perjalanan panjang kota ini, dari mulai Daendels mematokkan tongkatnya di titik nol kilometer hingga masa pembangunan jalan berpuluh-puluh kilometer yang memangkas habis seluruh tanaman. Dari mulai pembangunan gedung-gedung bersejarah, hingga kemudian dirobohkan kembali. Dari mulai Lautan Api hingga Lautan Sampah. Tak ada jejak yang terlewat.
“Bersih, Hijau, dan Berbunga” adalah julukan untuk kota ini 40 tahun yang lalu..
“Bersih, Makmur, Taat, dan Bersahabat” adalah julukan untuk kota ini 20 tahun yang lalu..
“De Green Metropolis” itulah julukan baru untuk kota ini.
Ini memang bukan julukan yang jadi slogan resmi pemerintah. Ini julukan yang ditasbihkan oleh masyarakat pada kota yang mereka cintai. Julukan yang diakui oleh khalayak negeri. Kedengarannya seperti utopis. Tapi ini semua terjadi bukan dalam satu dua hari, satu dua bulan, atau satu dua tahun. Semuanya menjadi mungkin, berkat kesadaran dan kerja keras dari semua pihak yang terlibat dan dilibatkan. Masyarakat, pengusaha, pelajar, pekerja, pemerintah, maupun pendatang bergerak sinergis bahu membahu mewujudkan mimpi bersama. Mimpi untuk memanusiakan kota ini. Mimpi untuk menjadikan sampah, polusi, macet, dan semrawut adalah masa lalu dari kota ini. Mimpi untuk membuat kota ini menjadi kota yang ramah. Nyaman untuk ditinggali. Aman untuk ditempati. Semuanya demi mengembalikan identitas kota ini yang telah lama usang. Yang orang pikir tak mungkin bisa dibenahi. Yang orang bilang tak bisa dibereskan. Semuanya demi kerinduan yang teramat dalam di benak semua orang, untuk kembali tinggal di sebuah kota yang genah, merenah, tur tumaninah..
“Ti baheula dilingkung ku gunung. .
Ayeuna mah beuki heurin ku tangtung..
Wilujeng tepang taun.. Bandung..”
Posted in I LUV BDG
Tags: Bandung, hijau, kota, metropolitan, ulang tahun
Recent Comments